Jumat, 30 Desember 2011

MENGEJAR SUKSES

H
al apa yang paling diinginkan semua umat manusia? Jawabannya : sukses. Sukses  telah menjadi impian bahkan kebutuhan mutlak setiap manusia. Berbagai jenis pendidikan diambil, beragam jenis pekerjaan ditekuni demi mencapai kesuksesan. Sayangnya, meski semua manusia ingin sukses, tidak semuanya memahami apa itu  kesuksesan. Bahkan,yang sering saya dengar tentang definisi tentang apa itu kesuksesan, tidak sedikit yang  masih menganggap kesuksesan identik dengan punya harta banyak. Bisa jadi  mereka mungkin lupa atau tidak sadar mengenai begitu banyak orang kaya (secara materi) yang hidup dalam stres, depresi hingga mati dengan cara bunuh diri. Ironis!  Ada juga yang menganggap sukses identik dengan meraih sebuah prestasi atau cita- cita.  Seiring perjalanan hidup, saya  semakin menyadari kalau sukses sangatlah berbeda  dengan pengakuan sukses. Dalam buku  REACH YOUR MAXIMUM POTENTIAL,  karya Paulus Winarto dikatakan bahwa sukses adalah sebuah perjalanan (success is a journey). Sukses bukanlah sebuah tujuan akhir (success is not a destination).
Perjalanan sukses itu akan sangat berarti jika kita senantiasa melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Dengan kata lain, sukses adalah perjalanan untuk  menemukan sekaligus mengembangkan talenta yang sudah Tuhan percayakan pada kita dan menjadikannya berkat bagi hidup sesama. 
Maxwell pernah mengatakan kalau sukses terdiri dari tiga hal penting, yakni mengetahui tujuan hidup Anda (knowing your purpose in life), bertumbuh menggapai  potensi maksimal Anda (growing to your maximum potential), dan menaburkan benih yang membawa keuntungan bagi orang lain (sowing seeds that benefit others). Bertolak dari definisi sukses adalah sebuah perjalanan maka seorang mahasiswa  tidak boleh berkata dia akan sukses jika ia diwisuda. Mengapa? Jika ia berkata  demikian, maka pada saat ia diwisuda kemungkinan besar ia akan medefinisikan  ulang kesuksesannya dengan berkata, "Saya akan sukses jika saya sudah dapat pekerjaan". Hal tersebut dapat terus berlanjut. Misalnya setelah mendapatkan pekerjaan ia akan  berkata kalau ia akan sukses jika ia sudah menjadi manager di perusahaan tersebut. Ketika jadi manager, ia akan berkata, ia akan sukses jika ia menjadi direktur. Tatkala  menjadi direktur, ia berkata, ia akan sukses jika ia berhasil membawa perusahaannya menjadi nomor satu dalam hal penjualan, dan seterusnya. Cara  pandang seperti ini bisa jadi akan membuatnya stres karena ia merasa belum meraih  apa-apa. 
Jika seseorang telah melakukan yang terbaik sepanjang perjalanan hidupnya ia sebenarnya sudah sukses. Dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, jika ia senantiasa melakukan yang terbaik, ia sebetulnya sudah sukses hanya mungkin ia belum mendapatkan pengakuan atas kesuksesannya. Sehingga dapat dikatakan kalau sukses adalah ketika kita mampu menjalankan peran kita di dalam kehidupan. Persis sebuah pepatah bijak mengatakan, "You can become the  star of the hour if you make the minutes count." Ya, Anda dapat menjadi bintang  pada jam ini jika Anda menjadikan setiap menitnya berarti. 

Rabu, 28 Desember 2011

LIFE



CERITA PETANI





A
lkisah jaman dahulu kala ada seorang petani miskin yang hidup dengan seorang putera nya. Mereka hanya memiliki seekor kuda kurus yang sehari-hari membantu mereka menggarap ladang mereka yang tidak seberapa. Pada suatu hari, kuda pak tani satu - satunya tersebut menghilang, lari begitu saja dari kandang menuju hutan. Orang-orang di kampung yang mendengar berita itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh malang nasibmu!". Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …

"Keesokan hari nya, ternyata kuda pak Tani kembali ke kandangnya, dengan membawa 100 kuda liar dari hutan. Segera ladang pak Tani yang tidak seberapa luas dipenuhi oleh 100 ekor kuda jantan yang gagah perkasa. Orang – orang  dari kampung berbondong datang dan segera mengerumuni "koleksi" kuda – kuda  yang berharga mahal tersebut dengan kagum. Pedagang – pedagang  kuda segera menawar kuda - kuda tersebut dengan harga tinggi, untuk dijinakkan dan dijual. Pak Tani pun menerima uang dalam jumlah banyak, dan hanya menyisakan 1 kuda liar untuk berkebun membantu kuda tua nya. Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!". Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

Keesokan hari nya, anak pak Tani pun dengan penuh semangat berusaha menjinakan kuda baru nya. Namun, ternyata kuda tersebut terlalu kuat, sehingga pemuda itu jatuh dan patah kaki nya. Orang-orang di kampung yang melihat peristiwa itu berkata: "Wahai Pak tani, sungguhmalang nasibmu!". Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

Pemuda itupun terbaring dengan kaki terbalut untuk menyembuhkan patah kaki nya. Perlu waktu lama hingga tulang nya yang patah akan baik kembali. Keesokan hari nya, datanglah Panglima Perang Raja ke desa itu. Dan memerintahkan seluruh pemuda untuk bergabung menjadi pasukan raja untuk bertempur melawan musuh di tempat yang jauh. Seluruh pemuda pun wajib bergabung, kecuali yang sakit dan cacat. Anak pak Tani pun tidak harus berperang karena dia cacat. Orang-orang di kampung berurai air mata melepas putra-putra nya bertempur, dan berkata: "Wahai Pak tani, sungguh beruntung nasibmu!". Pak tani hanya menjawab, "Malang atau beruntung? Aku tidak tahu …"

Kisah di atas, mengungkapkan suatu sikap yang sering disebut: non-judgement. Sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan untuk memahami rangkaian kejadian yang diskenariokan Sang Maha Sutradara. Apa yang kita sebut hari ini sebagai "kesialan", barangkali di masa depan baru ketahuan adalah jalan menuju "keberuntungan" . Maka orang - orang seperti Pak Tani di atas, berhenti untuk "menghakimi" kejadian dengan label – label  "beruntung", "sial", dan sebagainya. Karena, siapalah kita ini menghakimi kejadian yang kita sunguh tidak tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Seorang karyawan yang dipecat perusahaan nya, bisa jadi bukan suatu "kesialan", manakala ternyata status job-less nya telah memecut dan membuka jalan bagi dirinya untuk menjadi boss besar di perusahaan lain. Maka berhentilah menghakimi apa yang terjadi hari ini, yang selama ini kita sebut dengan "kesialan" , "musibah " dll , karena .. sungguh kita tidak tahu apa yang terjadi kemudian dibalik peristiwa itu.

"Hadapi badai kehidupan sebesar apapun. Tuhan takkan lupa akan kemampuan kita. Kapal hebat diciptakan bukan untuk dilabuhkan di dermaga saja."


MENDIDIK DIRI SENDIRI
 








B
egitu mudahnya menebar petuah pada orang lain, dan betapa sulitnya berkaca pada diri sendiri. Pembinaan diri merupakan keniscayaan ditengah kerontangnya ruhiyah serta sangat disayangkan hal tersebut sering dilupakan. Ibarat pepatah “ gajah dipelupuk mata tak tampak, kuman disebrang lautan tampak nyata” . Pepatah ini amat tepat menggambarkan kehidupan kita sehari-hari. Nasihat dan bimbingan bertaburan dimana-mana, namun sering kali diri sendiri jadi terlupakan. Orang tua kita sungguh bijak merangkai ungkapan diatas, demi mengajarkan anak cucunya tentang pentingnya arti suri tauladan diri, sebelum memuntahkan kata-kata.

Suri tauladan dan bentuk keteladanan memang barang mahal bagi setiap manusia. Setiap orang, dalam banyak waktunya, sering dituntut untuk digugu dan ditiru oleh lingkungan sekitarnya, baik dalam lingkungan keluarga, kantor, sekolah dan masyarakatnya. Hal ini jugalah, hikmah betapa islam menekankan konsep keteladanan dalam banyak hal dan situasi serta implementasinya. Rasulullah SAW  sendiri diutus oleh Allah SWT, yang mana disebutkan dalam Al-Quran sebagai teladan mulia (uswatun hasanah) bagi orang-orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah SWT & hari akhir (QS al-ahzab:21). Namun, harus diakui, pengaruh lingkungan dan godaan duniawi terlampau sering melenakan orang untuk mempertajam visi keteladanan yang dimilikinya. Padahal keteladanan harus diasah, jika tidak ingin tumpul dan berkarat. Dalam kerangka inilah bahwa mendidik diri sendiri merupakan suri tauladan yang harus dibentuk sebelum memberi petuah kepada orang lain. Konsep mendidik sendiri adalah sekumpulan metode edukasi yang dapat mengarahkan setiap individu untuk membangun kepribadiannya secara paripurna. Baik dari segi ilmiah, keimanan,akhlak, sosial dan lain sebagainya. Proses ini bertujuan untuk mengangkat kualitas diri pada derajat kesempurnaan manusiawi, serta menekankan pada potensi dan kemauan diri yang secara fitrah mencintai langkah kearah kebaikan. Sebagai sebuah konsep, proses mendidik diri sendiri tentunya memiliki beragam metode dan cara. Sebagai pilar pertama menurut para ulama adalah instropeksi diri. Instropeksi diri adalah sesuatu yang terjadi secara alami belaka, jika orang mau menggunakan akalnya. Fitrah manusia yang mencintai kebaikan dan membenci keburukan, membuat orang berfikir untuk memilih jalan yang terbaik dalam hidupnya.
Bagi seorang muslim, instropeksi diri punya makna tersendiri, sebab orientasi perbuatannya adalah akhirat. Seperti sebuah ungkapan : instropeksilah dirimu, sebelum kalian diperhitungkan, perhatikanlah amal saleh yang telah kalian persiapkan, saat kembali dan mempersembahkannya dihadapan Allah SWT. Selain itu pula prosesinstropeksi ini sangat bermanfaat jika rutin dilakukan pada waktu tertentu. Kondisi ini adalahkesempatan emas untuk menengok kebaikan yang telah didulang, sembari merunut jumlahkeburukan yang telah menjerat diri.Tak dapat di pungkiri, bahwa sikap lalai kebanyakan orang, dilatar belakangi oleh awamnya terhadap manfaat mendidik diri sendiri. Beberapa pakar muslim telah menguraikan manfaat dari hasil proses mendidik sendiri yang menuntut keikhlasan dan kesungguhan, adalah sebagai berikut :
1.         Manfaat pertama adalah kejayaan & ganjaran surga di akhirat (QS Al-Kahfi:107).
2.         Mendidik diri sendiri yang terwujud dalam kesungguhan, berpegang teguh pada aturan yang hak, dan akan melahiran kebahagiaan serta ketentraman yang tak diperoleh dengan jalan lain (QSThaha:124).
3.       Pribadi-pribadi yang berusaha mengamalkan akhlak baiknya dalam kehidupan sehari-hari, tak ayal akan meraih cinta dan perasaan untuk dapat diterima oleh orang lain. Sebab, setiap manusia sejati berusaha menjauhi perbuatan- perbuatan yang dapat merusak hubungan sesama manusia seperti syirik, fitnah, gosip, zalim dan lain sebagainya.
4.       Waktu dan hartapun menjadi berkah. Boleh jadi umur dan harta yang diberikan lebih sedikit dibandingkan orang lain, akan tetapi kesungguhan manusia sejati, yang berusaha mendidik dirinya, akan membuat waktu yang kelihatannya sedikit, akan sarat dengan manfaat. Setiap waktunya adalah upaya untuk meminimalkan tindakan-tindakan bodoh yang dapat merusak nilai  rapotnya dihadapan Allah SWT.
5.       Pribadi yang mengasah dirinya juga lebih tahan banting dalam menghadapi persoalan dunia. Jauh dari stres dan putus asa. Saat gembira, ia menabur syukur. Saat nestapa, ia menebar sabar. Dibutuhkan kemauan yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh. Kemuliaan hanya dapat diraih dengan susah payah, yang kemudian dikemas dengan keikhlasan yang murni, dan yang tidak boleh di lupakan, bahwa mendidik diri sendiri dapat efektif, apabila manusia tersebut mengupayakan agar ia hidup ditengah lingkungan dan teman-teman yang mendukungnya. Kesempatan untuk berbuat kebaikan makin luas, serta saling mengingatkan secara tulus dan sehat dapat dipupuk sebagai tradisi. Bukan untuk menjatuhkan apa lagi cari muka. Jadi, perhatikan saja kuman yang tampak dipelupuk mata, dan biarkan gajah buram di sebrang lautan. Semoga Tuhan YME mengabulkan doa kita semua...amien.