Jumat, 12 Juli 2013



“SOLIDARITAS”

Suatu hari ketika aku hendak pergi ke Jepara menggunakan Bus, aku melihat seorang anak perempuan kecil, berwajah ceria, lucu dan mungil memegang mike dan sebuah tape karaoke kecil diletakkan di lantai Terminal Bus mengalunkan musik pengiring lagunya. Dengan lincahnya Ia bernyanyi sambil bergaya, gerakan tangan dan badannya seirama dengan lagu yang ia nyanyikan. Suara gadis mungil itu masih bening karena ia masih berusia sekitar tujuh atau delapan tahun. Dengan penuh penjiwaan ia melantunkan lagu :
ambilkan bulan, bu
ambilkan bulan, bu
yang slalu bersinar di langit
di langit bulan benderang
cah’yanya sampai ke bintang
ambilkan bulan, bu
untuk menerangi
tidurku yang lelap di malam gelap
Semua orang yang berada di terminal bus, ikut menyaksikan gadis kecil itu dan merasakan sebuah jiwa yang sedang bernyanyi, Suaranya begitu mempengaruhi orang-orang yang ada di terminal pada saat itu, sampai-sampai dua anak kecil di sebelahku pun ikut menirukan lagu gadis kecil itu. Hatiku pun bergetar dan tak terasa aku pun ikut bernyanyi...

Setelah bernyanyi, dengan tetap diiringi musik lagu yang sama, ia mengeluarkan kantong permen Relaxa, dan mulai mengedarkan dari satu orang ke orang yang lain yang ada di terminal bus itu. Ada satu hal yang membuatku terpana. Di sebelah gadis kecil itu, ada seorang pengemis cacat. Ia duduk mengesot di lantai sambil menggaruk-garuk luka yang ada di kepalanya. Ia seorang anak laki-laki dan tidak dapat berjalan dengan kedua kakinya, ia mengesot untuk meminta uang dari orang – orang yang ada disekelilingnya.
Aku sangat heran setelah ikut mendengarkan lagu gadis itu, pengemis cacat itupun mengeluarkan uang logam dari saku bajunya dan memasukkannya ke dalam kantong permen yang diedarkan oleh gadis kecil tadi. Sebuah apresiasi yang luar biasa atas lagu merdu gadis kecil itu dari seorang anak yang cacat.

Melihat kejadian itu hatiku menjadi gelisah, ada pertanyaan besar di dalam diriku…

"Mengapa anak laki-laki yang masih membutuhkan uluran tangan orang lain itu mau merelakan   uang yang ia terima, dan memasukkannya ke dalam kantong permen gadis itu?"

“Mengapa ia yang masih serba kekurangan itu masih mau solider dengan sesamanya yang mungkin kurang menderita bila dibandingkan dirinya sendiri?”

Ada logika yang diputarbalikkan oleh tindakan anak laki-laki kecil cacat tadi. Dari kekuranganya ia memberikan sesuatu bagi orang lain dengan ikhlas, meski uang yang ia berikan itu merupakan hasil jerih payah dirinya, yang harus mengesot meminta belas kasihan orang lain.

“Dari cerita ini semoga saja kita bisa memetik pelajaran yang begitu berharga”
Thanks…..

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Ia memang,, tapi menyentuh sekali saat seseorang dengan keterbatasannya tapi masih peduli dan mau berbagi....

      Hapus